Menangkap Makna di Bulan Syawal yang Penuh Berkah

21 Agt 2012

      Setelah kita berlebaran dengan melakukan silahturahmi kesesama saudara, kerabat, teman. Bahkan melakukan perjalanan pulang kampung atau mudik, masih ada amalan yang tidak kalah menariknya, yaitu puasa enam hari yang sering disebut pasa syawalan. Syawal dikatagorikan merupakan bulan kemenangan bagi orang
yang berjaya menghayati Ramadhan. Hari kemenangan atau hari raya, itu adalah augerah Allah buat hambaNya yang bersyukur. Orang yang berjaya, akan menerima anugerah dari Allah SWT di akhirat kelak Rasulullah telah bersabda:
”Hendaklah kamu bersungguh-sungguh pada hari raya Fitri ini melakukan sedekah, melakukan segala bentuk kebaikan dan kebajikan seperti melakukan sholat, berzakat, bertasbih, bertahlil karena sesungguhnya hari ini adalah hari yang Allah mengampunkan dosa-dosa kamu dan Allah SWT melihat pada kamu dengan rahmat.”

Hadist lain menjelaskan :
”Apabila tiba hari raya Fitrah, Allah SWT telah mengutuskan para malaikat, maka mereka pun turun di seluruh negeri, di seluruh pelosok dunia. Maka mereka pun berkata: Wahai umat Muhammad hendaklah kamu keluar kepada Tuhan yang Maha Pemurah. Maka apabila mereka umat-umat Muhammad itu keluar kepada tempat solat mereka, lantas Allah SWT berfirman: Hendaklah kamu saksikan wahai para malaikat-Ku. Sesungguhnya Aku telah jadikan pahala mereka itu di atas puasa mereka sebagai keredhaan Ku dan keampunan dari Ku.”

Dari dua hadis ini, dapat mengetahui bahwa anugerah Allah kepada mereka yang berjaya menempuh Ramadhan ialah kedatangan Syawal yang membawa beberapa manfaat di antaranya: mendapat ampunan, do’anya diterima, mendapatkan rahmatNYA dan mendapatkan keridhoan Allah SWT.
Anugerah adalah yang paling besar untuk seseorang mukmin. Apabila mereka mendapat anugerah-anugerah ini dapat dimaknai mereka mendapat jaminan segala amalannya diterima oleh Allah, jaminan kebahagiaan dan keselamatan dunia akhirat dan mendapatkan bantuan Allah di dunia dan di akhirat. Merekalah orang-orang yang bertaqwa.
Orang mukmin menyambut Syawal dengan rasa kesyukuran dan terus melakukan amal ibadah dan amal kebaikan demi mengharap keredhaan Allah. Di antara amalan yang di syariatkan pada bulan Syawal ialah puasa enam hari di bulan Syawal, berpuasa setelah sehari menyambut hari raya. Puasa ini dibolehkan dikerjakan secara berturut-turut enam hari atau tidak asalkan dalam bulan Syawal. Banyak keistimewaannya,
Sabda Rasulullah :
"Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan, kemudian diikuti dengan berpuasa enam hari pada bulan Syawal, maka sama dengan telah berpuasa selama satu tahun" (HR. Muslim).

Hadist lain menjelaskan :
Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan, maka puasa satu bulan sama dengan puasa sepuluh bulan, ditambah dengan puasa enam hari pada bulan Syawal, maka genaplah sama dengan puasa satu tahun" (HR. Ahmad, Nasa'i dan Ibn Majah).

Abu Hurairah berkata: Pahalanya satu tahun, karena setiap hari pahalanya sama dengan puasa sepuluh hari. Tiga puluh hari ramadhan sama dengan tiga ratus hari ditambah enam hari bulan syawal sama dengan enam puluh hari, sehingga jumlah seluruhnya adalah tiga ratus enam puluh hari yakni satu tahun.
Hal ini, Allah berfirman:
"Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya" (QS. Al-An'am: 160)".

Hadis ini menjadi dasar bagi umat Islam untuk mengamalkan puasa sebanyak enam hari di bulan Syawal setelah menunaikan puasa bulan Ramadhan sebulan penuh. Puasa enam hari ini dapat diartikan bahwa sebagai manusia yang menjadi hamba Allah SWT, alangkah baiknya apabila amalan puasa yang diwajibkan kepada kita di bulan Ramadhan itu kita teruskan juga di bulan Syawal walaupun hanya enam hari. Ini seolah menunjukkan bahwa kita tidak melakukan ibadah puasa semata-mata karena ia menjadi satu kewajiban tetapi karena rasa diri kita sebagai seorang hamba yang benar-benar beriman bersungguh-sungguh untuk taqarrub kepada Allah.

Sedikit meneropong tentang Bagaimana Menjalankan Puasa Enam Hari Bulan Syawal ?
Pertanyaan.
Apa cara yg paling baik dalam menjalankan puasa enam hari bulan Syawal ?

Jawaban
Cara yg paling utama ialah berpuasa pada enam hari awal bulan syawal sesudah hari Idul Fithri secara langsung, berturut-turut sebagaimana yg ditetapkan oleh para ulama, krn cara itu lebih maksimal dalam mewujudkan pengikutan seperti yg dituturkan dalam hadits. Kemudian mengikutinya dan krn cara itu termasuk bersegera menuju kebajikan yg diperintahkan oleh dalil-dalil yg menganjurkan dan memuji orang yg mengerjakannya, juga hal itu termasuk keteguhan hati yg mrpk bagian dari kesempurnaan seorang hamba Allah, sebab kesempatan tdk selayak dibiarkan lewat percuma krn seseorang tdk tahu apa yg dihadapkan kpd di kesempatan yg kedua atau akhir perkara. Inilah yg saya maksudkan dgn bersegera dalam beramal dan cepat-cepat mengambil kesempatan, sebaik seseorang menjalankan dalam segala urusan di kala kebenaran telah jelas nampak padanya.

Puasa Enam Hari Bulan Syawal Bagi Orang Yang Punya Hutang Puasa Wajib
Pertanyaan
Bagaimana pendpt anda tentang puasa enam hari bulan Syawal bagi orang yg berkewajiban membayar hutang puasa wajib ?

Jawaban

Sabda Nabi Shallallahu waalaihi wa sallam. Arti : Barangsiapa yg berpuasa Ramadhan kemudian mengikuti dgn enam hari dari bulan Syawal, seolah-olah dia berpuasa sepanjang masa.
Adapun jika seseorang masih menanggung hutang puasa lalu dia puasa enam hari, apakah dia boleh mengerjakan sebelum pelunasan hutang Ramadhan ataukah hrs sesudah ? Misal : Seorang laki-laki berpuasa Ramadhan sebanyak dua puluh empat hari, masih terhutang atas enam hari, apabila dia berpuasa enam hari di bulan Syawal sebelum mengerjakan enam hari puasa pengganti Ramadhan, maka tdk bisa dikatakan : Sesungguh dia berpuasa Ramadhan, dan dia mengikuti dgn enam hari bulan Syawal ; sebab dia tdk dianggap berpuasa Ramadhan kecuali bila dia menyempurnakannya, atas dasar ini maka tdk ditetapkan pahala puasa enam hari bulan Syawal bagi orang yg mengerjakan padahal dia masih punya tanggungan hutang puasa Ramadhan. Masalah ini bukanlah termasuk hal diperselisihkan ulama tentang boleh puasa nafilah (sunah) bagi orang yg masih memiliki tanggungan puasa wajib, krn perselisihan itu terjadi pada puasa selain enam hari tersebut, sedangkan tentang enam hari yg mengikuti Ramadhan tdk mungkin ditetapkan pahala kecuali bagi orang yg telah menyempurnakan puasa Ramadhan.
[Disalin dari kitab Majmu Fatawa Arkanil Islam, edisi Indonesia Majmu Fatawa Solusi Problematika Umat Islam Seputar Akidah dan Ibadah, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Penerbit Pustaka Arafah]

Sekali lagi Makna Bulan Syawal yang diharapkan dari ibadah itu agar meraih derajat taqwa, maka dengan bersambung Bulan Syawal, maka makna itu terasa, ialah agar terjadi peningkatan. Seolah-olah nama bulan ini mengingatkan bagi siapapun, bahwa seharusnya setelah menjadi bertaqwa maka seseorang atau sekelompok orang harus menampakkan diri, ada peningkatan kualitas hidupnya.
Setidak-tidaknya tatkala memasuki Bulan Syawal, ada harapan agar terjadi peningkatan kualitas, ialah kualitas ketaqwaan bagi mereka yang berpuasa. Jika hal itu ingin dilihat secara nyata, maka akhlak orang-orang yang telah berpuasa menjadi meningkat, orang-orang yang berkesusahan menjadi bisa tersenyum, lantaran persoalan mereka terselesaikan oleh karena munculnya banyak orang yang semakin sadar membayar infaq. Sehingga, memasuki Bulan Syawal kehidupan menjadi semakin lebih baik dan damai, karena dihiasi oleh akhlaq yang mulia, kedekatan dengan Allah, dan juga dengan sesama makhluk. Akhirnya Bulan Syawal menjadi bulan yang sangat indah.
Puasa bukan untuk meningkatkan aspek ekonomi atau kekayaan, namun lebih untuk meningkatkan ketaqwaan. Akan tetapi jika ternyata, setelah memasuki bulan Syawal masjid menjadi sepi kembali, rasa syukur, sabar, ikhlas, dan istiqomah tidak juga meningkat, maka boleh saja dikatakan, bahwa puasa tidak mendapatkan apa-apa. Secara ekonomis tidak meningkat, sedangkan spiritual pun juga tidak bertambah. Sehingga kata syawal hanya sebatas nama bulan itu, dan belum memberikan makna apa-apa, termasuk bagi yang berpuasa. Semogalah kita semua, tidak tergolong sebagai orang yang tidak mendapatkan apa-apa itu. Seharusnya jika mungkin, sebagai kaum muslimin, di Bulan Syawal ini, berhasil mendapatkan dua-duanya, yaitu keuntungan ekonomi, maupun juga derajat taqwa, Amin……….

.............................................................................
Ref: http://priatmojo.blogspot.com
          http://blog.re.or.id/


SILAHKAN GUNAKAN FACEBOOK COMMENTARNYA JIKA TIDAK MEMILIKI URL BLOG ATAU SITUS LAINNYA SOB...?? TRIMAKASIH.

Comments
0 Comments

0 komentar:

Poskan Komentar

 
 
 

Pengikut