Siapakah Sebenarnya yang Harus Bertanggung Jawab Pendidikan Anak

7 Jan 2013

Agar Pendidikan Anak Maksimal


Berikut beberapa hal praktis yang dapat dilakukan untuk membuat anak mencapai 2 tujuan utama pendidikan: mengembangkan kemampuan belajar dan mengembangkan perilaku positif terhadap pelajaran hidup. Apa sajakah hal yang dapat dilakukan orang tua mencocokkan anak dengan sekolah?

  • Mengerjakan Pekerjaan Rumah
Sebelum mendaftarkan anak  ke sekolah, cobalah untuk mengunjunginya terlebih dahulu. Kenali  filosofi  lingkungan sekolah dengan  berbicara pada beberapa orangtua dimana anak mereka memiliki Guru yang sama dengan anak Anda. Jika ada beberapa pilihan Guru, coba temui  mereka  sebelum masuk sekolah, amati mereka ketika mengajar di kelas, dan gunakan intuisi Anda untuk memutuskan, "Apakah ini orang yang tepat untuk anak saya?"

Jika anak memiliki ketergantungan yang tinggi akan segala hal.  Tak perlu memberitahukan, di mana sekolah barunya dan siapa yang akan menjadi Gurunya karena hal tersebut adalah keputusan besar orangtua. Tanamkan banyak kepercayaan jika Anda yakin anak adalah pribadi yang solid. Ini penting sebagai modal anak menghadapi tantangan sekolah.

Bila perlu, ajak anak bertemu calon Gurunya ini akan mengondisikan sebelum kelas dimulai. Begitu pula, ajak anak bersekolah bersama teman-teman sebayanya dalam kelas yang sama. 

  • Pastikan anak  dan  Guru mendapatkan kecocokan
Mungkin akan sulit untuk menemukan seorang guru mampu memiliki keseimbangan dalam pengasuhan dan pendidikan.  Teorinya, semakin sedikit anak yang diajar, Guru juga semakin cukup memiliki perhatian. Cobalah melihat kondisi kelas sebelum ajaran dimulai, pastikan kapasitas kelas dan jumlah siswa cukup berimbang.

Kendati demikian, jangan terlalu protektif dengan tidak mengijinkan anak bersekolah di tempat kurang baik menurut Anda. Ingat, orangtua juga perlu memberi kepercayaan jika anak memiliki kemampuan survivalnya. 

Saat anak mulai bersekolah, cobalah cari tahu apa yang disukai Anak dari cara Guru mengajar. Beberapa informasi yang didapat juga menjadi jembatan anak memahami Gurunya. Semakin anak merasa memiliki kebebasan menjadi dirinya dan merasa cocok dengan Guru, akan membuat prestasi akademisnya melambung.

  • Bantu anak dalam penyesuaian
Pergi dan pulang ke sekolah di masa-masa awal sekolah dapat membuat stres anak. Kenyataan ini dapat berlangsung selama beberapa hari. Anak dapat mengalami pergantian mood yang tak terduga selama masa awal sekolah.

Hal ini, diantaranya, bisa disebabkan perbedaan ekspektasi baik dari Guru, dan teman sekolah  yang memiliki kebiasaan yang tak biasa. Beberapa anak kemudian merasa “leluasa” bertingkah di hadapan Ibunya namun tidak di depan Guru dan teman-temannya.

  • Jika ragu, ajak anak  keluar
Jangan terlalu bereksperimen. Beberapa anak memproses  informasi secara berbeda. Ada yang membutuhkan alat bantu visual kemudian melakukan yang terbaik dalam lingkungan  terstruktur dan fleksibel.

Anak dengan kebutuhan yang tinggi,  cenderung membutuhkan perhatian one-on-one . Banyak dari anak-anak  perfeksionis  takut gagal memenuhi harapan Guru. Mereka sering merasa leluasa bertingkah atau berbuat nakal di depan ibu.  Sesuai prinsip dasar membesarkan anak,  beberapa anak memang akan lebih penurut kepada Guru daripada orang tua.

Beberapa anak juga  bisa cenderung ultra sensitif dengan sekolah karena mereka menilai performa akademis sangat identik degan nilai  pribadinya. Anak-anak membutuhkan keseimbangan  antara akademisi dan kasih sayang.

Anak cerdas juga cenderung lebih cepat  bosan di sekolah. Anak yang bosan akan menyimpang ke dalam perilaku yang tidak diinginkan, beberapa juga memperoleh cap sebagai pembuat onar. Jika,  setelah beberapa minggu anak Anda yang tadinya baik  berubah tak lagi seperti ketika awal Anda daftarkan sekolah,  ini adalah pertanda  Anda perlu membuat perubahan.

  • Mulai secara bertahap
Setelah Anda  memutuskan kapan dan di mana sekolah Anak, mulailah secara bertahap. Mungkin beberapa anak ingin terjun langsung ke sekolah. Sayangnya,  anak-anak sebenarnya memiliki kebutuhan yang tinggi akan  pengenalan bertahap.

Kendati Anda mungkin ingin anak  pergi ke sekolah langsung untuk sehari penuh, anak  hanya siap untuk setengah hari di awal mereka sekolah.  Ketidak siapan ini kerap ditandai dengan perilaku yang kerap memburuk menjelang sore hari.

Anda dapat saja melakukan pengondisian seperti dengan meluangkan waktu ke sekolah anak beberapa jam dalam minggu-minggu awal. Anda akan mengetahui kapan harus melepas anak bersekolah sendiri ketika Ia telah terbiasa dengan sekolah barunya.

Ada korelasi timbal balik yang sensitif antara anak berkebutuhan tinggi  terhadap orang tuanya.  Anak-anak ini menangkap suasana hati  dengan sangat mudah. Jika Anda cemas  anak  pergi  sekolah, anak  dapat  menjadi lebih cemas. Suasana hati antara orang tua dan anak-anak dapat menular, terutama pada anak yang berkebutuhan tinggi dan orang tua sangat dekat dengan anak. Sebaiknya, berikan anak  pesan jika sekolah itu menyenangkan, dan Anda juga bersemangat  akan sekolah anak. Katakan, jika tidak  apa-apa anak berada di sekolah dan itu adalah pengalaman menyenangkan.


Mendidik Anak Dengan Perasaan Baik Dan Tindakan Baik

Anak yang masih sangat kecil atau masih balita atau usia dini dalam melakukan segala hal selalu menggunakan perasaannya ketimbang berpikir. Baru setelah si anak beranjak dewasa ia akan lebih menggunakan logikanya atau berpikir ketimbang perasaannya. Jika waktu masih kecil orang tua mengajarkan anaknya dengan perasaan keras maka seolah-olah si Anak sedang di ajarkan untuk bersikap keras pula.

Agar lebih mudah dipahami mari kita umpamakan diri kita (orang tua) adalah cermin, dan cermin akan memantulkan gambar yang sama persis dengan gambar yang dihadapannya. Jika kita cermin dan si anak adalah gambar yang dihadapannya, maka apapun yang kita peragakan akan memantul kembali kepada si anak. Jika yang kita peragakan adalah memukul, membentak, dan menjewer. Maka secara tidak langsung kita sedang mengajarkan si anak untuk memukul, membentak, dan menjewer. Jadi bukan tidak mungkin jika besar nanti si Anak menjadi preman pasar yang sering memukul, membentak, dan menjewer orang lain.

Meskipun maksud kita bersikap keras kepada anak adalah bertujuan agar anak menjadi patuh, tapi seperti yang sudah saya katakan di atas bahwa anak yang masih kecil itu lebih memainkan perasaan ketimbang berpikir, ia tidak akan menangkap maksud kita, ia hanya menangkap apa yang kita peragakan. Jika kita selalu tersenyum, ia pun akan selalu tersenyum, jika kita selalu marah-marah, ia pun akan selalu marah-marah. Jadi peranan perasaan orang tua adalah yang paling penting dalam cara mendidik anak.

  • Mendidik Anak Dengan Sugesti Yang Baik
Sebenarnya ini masih berkaitan dengan mendidik anak yang diatas atau dengan perasaan, namun jika di atas adalah dalam bentuk tindakan, sekarang dalam bentuk ucapan atau sugesti.


Mendengar kata "sugesti" mungkin dalam benak kita akan lengsung berpikir ke "Hipnotis". Itu benar!! Jadi dalam prakteknya akan lebih mudah dipahami jika kita (orang tua) menganggap sebagai "romy rafael" yang ahli dalam melakukan hypnosis, dan anak kita adalah orang yang akan di hipnotis.

Dalam melakukan hipnotis setiap kata yang keluar dari mulut kita harus betul-betul diperhatikan. Dalam memanipulasi orang yang akan di hipnotis, Romy rafael pernah menyebutkan kata "dua tempat" bukan "dua empat" yang maksudnya agar orang yang di hipnotis itu menanamkan kata tempat bukan empat (4) yang masuk ke dalam alam bawah sadarnya. Dan akhirnya orang yang di hipnotis itu memilih tempat yang di inginkan oleh Romy rafael.

Disini saya tidak akan membahas tentang praktik hipnotis yang dilakukan Romy rafael namun saya bermaksud agar Anda orang tua harus berhati-hati dengan setiap kata-kata yang keluar dari mulut Anda.

Baik dalam bentuk tindakan maupun dalam bentuk ucapan hanya akan terbagi menjadi dua bagian, yang baik dan yang buruk. Ucapan atau kata atau sugesti yang baik seperti; sayang, manis, cinta, anak baik, anak pintar, anak penurut, dan lain-lain. Sedangkan Ucapan atau kata atau sugesti yang buruk seperti; anak setan, anak nakal, anak kurang ajar, anak bandek, anak tidak tau sopan santuk, anak penakut, goblok, tolol, dan lain-lain.

Karena pikiran terdalam anak kecil masih kosong, maka sugesti akan lebih cepat menyerap jika diarahkan kepada anak kecil dibandingkan orang dewasa. Sugesti yang baik akan tertanam dengan baik pula ke dalam alam bawah sadar si anak. Semakin sering kita men-sugesti atau mengucapkan kata-kata baik, secara langsung kita sedang menanamkan benih-benih kebaikan kepada alam bawah sadar si Anak. Dan yang akan terjadi nanti adalah: si anak akan menjadi sama persis seperti yang kita sugestikan. Jika kata-kata yang kita sugestikan adalah: anak baik, anak pintar, dan anak penurut, maka setiap sel dalam tubuh si anak akan membentuk menjadi: anak baik, anak pintar, dan anak penurut pula.

  • Mendidik Anak Dengan Kecukupan Bukan Kekurangan
Jika di atas adalah cara mendidik psikologis anak, sekarang adalah mendidik anak dalam bentuk Materi. Materi disini bisa dalam bentuk, makanan, pakaian, uang dan lain sebagainya.


Tapi saya orang yang tidak punya!! Saya tidak peduli bagaimana pun keadaan Anda, tapi untuk soal materi, si Anak harus selalu serba cukup. Mengapa!! Sebab jika si Anak selalu lapar maka yang akan ia pikirkan hanyalah makanan, makanan, dan makanan saja. Jika Anda pelit memberi Anak uang jajan maka yang akan ia pikirkan adalah duit, duit, dan duit saja. Tapi jika semuanya serba cukup maka pikirannya akan berkembang, berkreasi, dan berimajinasi untuk menemukan hal-hal yang luar biasa dalam hidupnya. Bukan berimajinasi ke makanan dan uang saja.

Dari sini kita tau mengapa kebanyakan anak orang kaya itu pintar-pintar, Itu sebenarnya bukan karena susunya yang mahal atau makanannya yang lezat-lezat, melainkan karena pikiran si Anak lebih terbuka dan berkembang luas.

Pada dasarnya seorang anak itu sama, jika pun ada anak yang sejak usia dini sudah pintar, itu bisa disebabkan karena faktor keturunan dari orang tua, tapi pendidikan dari orang tua lah yang berperan besar untuk menentukan kecerdasan si buah hati.

Saya punya tetangga, ia mempunyai anak yang dari masih kecilnya sudah sangat cerdas sekali, namun seiring berjalannya usia menjadi bodoh, dan saya perhatikan orang tuanya selalu membiarkannya serba kekurangan. Membiarkannya lapar, tidak pernah memberi uang jajan. Si Anak itu kadang-kadang saya suruh tapi dia akan menolak jika saya tidak memberinya ongkos jalan. Dari sini jelas bahwa yang dipikirkan si anak hanyalah uang, uang, dan uang saja.

Siapakah yang salah dalam hal ini??? Jelas orang tua, tapi kadang ada orang tua yang menyalahkan anaknya, padahal anak adalah cermin dari orang tua.

Oh ya satu lagi, Kebanyakan dari kita berpikir jika kita membiarkan si Anak serba cukup maka akan menjadi boros. Dan jika kita membiarkan si Anak kekurangan akan menjadi hemat. Padahal ini kebalik!, Justru dengan membiarkan si Anak selalu serba kekurangan itu yang malah boros. Mengapa demikian!! Karena jika di rumah kita banyak makanan maka perut kita akan selalu merasa kenyang, dan malah malas untuk makan. Tapi jika di rumah jarang ada makanan, bawaan perut kita juga akan lapar terus, begitu ada makanan langsung disikat habis.

Jika Anda tidak percaya silakan Anda terapkan cara di atas atau berilah si Anak serba cukup, lalu hitung pengeluaran Anda!.

  • Menjadi Teman Si Anak
Cara mendidik anak yang baik berikutnya adalah dengan menjadi teman si Anak, Cara ini lebih tepat jika si Anak sudah beranjak dewasa, karena biasanya di saat-saat itu si Anak mulai labil. Namun akan lebih baik jika memulainya sejak usia dini.


Sekarang kita akan beralih posisi yaitu kita yang menjadi anak, Jika kita ada masalah kemana biasanya kita akan mengadukan masalah tersebut?.. Jawabanyang paling banyak saya yakin adalah teman!.

Teman adalah segalanya bagi kita. Jika kita melakukan kesalahan, kita biasanya menceritakannya kepada teman terlebih dulu, Baru biasanya sang teman akan menyarankannya untuk menceritakannya kepada orang tua. Dan kita selalu patuh apa yang disarankan oleh teman.

Seharusnya jika didikan kita benar, maka si Anak akan lebih dulu untuk menceritakannya kepada orang tua. Tapi biasanya dengan alasan takut dimarahi, Si Anak jadi enggan untuk menceritakan unek-uneknya kepada orang tua.

Kembali lagi ke pembahasan di atas bahwa dalam hal apa pun kita tidak bolah memarah-marahi anak kita, Meskipun si Anak berbuat salah, karena seperti yang sudah saya katakan di atas bahwa setiap tindakan kita adalah cermin untuk anak kita.

Jika Anda tidak ingin Anak Anda menjadi pemarah, Anda pun tidak boleh pemarah!. Jika Anda ingin anak Anda menjadi orang baik, Anda pun harus menjadi orang baik!. Jika Anda ingin menjadi teman baik anak Anda, Anda pun harus menjadi teman yang baik untuk Anak Anda!

  • Anak Anda adalah Anda
Coba kita sebisa mengkin untuk hening, merenungkan sejenak siapa kita dan siapa anak kita. Mungkin kita pernah mendengar bahwa manusia adalah mahkluk abadi, Inilah maksudnya!. Ketika Anda memiliki anak, setiap sel yang ada pada tubuh Anda akan terbagi dua ke dalam tubuh anak Anda, Secara tidak sadar diri Anda menjadi dua orang, orang yang satu masih polos dan orang yang satu mulai menua yaitu Anda sendiri.


Coba tengok ke arah Anak Anda, Dia itu Anda. Jika Anda memarahinya, itu berarti Anda sedang memarahi Anda sendiri, Jika Anda membiarkannya serba kurang, itu berarti Anda sedang membiarkan Anda untuk serba kurang, Jika Anda memukulnya, itu berarti Anda sedang memukul Anda sendiri.

Cobalah sadar untuk setiap apa yang Anda lakukan kepada Anak Anda. Cobalah sadar bahwa Anda dan Anak Anda adalah SATU. Karena dengan memamahami kesadaran bahwa Anda dan Anak Anda adalah SATU, Anda tidak perlu membaca semua yang sudah saya tuliskan di atas, karena inti dari "Cara mendidik anak yang baik dan benar" disini adalah kesadaran tentang bahwa Anda dan Anak Anda adalah SATU!!.


Kiat Menciptakan Anak Cerdas Sejak Dini

Memiliki anak cerdas merupakan dambaan semua orang tua. Namun tahukah Anda bahwa orang tua dapat mendidik anak agar kecerdasannya dapat dirangsang sejak masih dalam kandungan? Bahkan sejak masih janin, orang tua dapat melihat perkembangan kecerdasan anaknya. Untuk bisa seperti itu, orang tua harus memperhatikan beberapa aspek, antara lain terpenuhinya kebutuhan biomedis, kasih sayang, dan stimulasi.

Bicara tentang kecerdasan, tentu saja tidak bisa lepas dari masalah kualitas otak, sedangkan kualitas otak itu dipengaruhi oleh sejumlah fakor. Secara prinsip, perkembangan positif kecerdasan sejak dalam kandungan bisa terjadi dengan memperhatikan banyak hal. Diantaranya adalah:


  • Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi
Pertama, kebutuhan-kebutuhan biologis (fisik) berupa nutrisi bagi ibu hamil harus benar-benar terpenuhi. Seorang ibu hamil, gizinya harus cukup. Artinya ,asupan protein,karbohidrat,dan mineralnya terpenuhi dengan baik. Selain itu, seorang ibu hamil tidak menderita penyakit yang akan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak dalam kandungannya. Kebutuhan nutrisi itu sendiri , sebenarnya bukan  hanya ketika ibu mengandung, melainkan ketika ia siap untuk mengandung pun sudah harus memperhatikan gizi, makanan dan komposisi nutrisinya harus lengkap, sehingga ketika hamil, dari segi   fisik sudah siap dan proses kehamilan akan berlangsung optimal secara nutrisi.


Tapi, memang di Indonesia atau di negara-negara berkembang pada umumnya boleh dikatakan masih ajarang ada keluarga yang mempersiapkan kehamilan. Bahkan kadang ada kehamilan dianggap sebagai suatu yang mengejutkan. Berbeda dengan yang terjadi di negara-negara maju. Inilah yang cenderung menjadi penyebab awal mengapa anak-anak yang lahir kemudian tidak berkualitas, karena orang tua seakan tidak siap dalam segala hal untuk memelihara anaknya.

  • Pemenuhan Kebutuhan Kasih Sayang
Seorang ibu harus menerima kehamilan itu dengan hati yang ikhlas dan bahagia, yakni kehamilan yang benar-benar dikehendaki. Tanpa kasih sayang, tumbuh kembang bayi tidak akan optimal. Si ibu hamil harus siap dan dapat menerima resiko dari kehamilannya. Risiko tersebut misalnya, seorang wanita karier yang hamil, merasa terbebani dan khawatir kehamilannya akan mengganggu  pekerjaannya. Ia sebenarnya ingin hamil, tapi disisi lain juga merasa tergangu dengan kehamilannya. Kondisi seperti ini tidak kondusif untuk merangsang perkembangan bayi dalam kandungannya.  


Selain itu, ada faktor psikologis yang mempengaruhi perkembangan kecerdasan bayi, yaitu apakah si ibu hamil menikah secara resmi atau kawin lari. Pernikahannya direstui atau tidak, dan apakah ada komitmen antara istri dan suami. Tanpa komitmen diantara keduanya, kehamilan itu bisa dianggap mengganggu.

Selain komitmen juga harus ada dukungan ( support ). Tanpa support, walaupun ada komitmen dari suami dan keluarga, namun masih dapat mengurangi perkembanan dan rangsangan kecerdasan bayi dalam kandungan. Jadi, variabel kasih sayang adalah komitmen dengan suami, serta support dari orang tua dan keluarga, sehingga seorang ibu dapat menerima kehamilannya dengan hati tentram.
Perhatian Penuh Ibu Hamil Terhadap Kandungannya

Maksudnya adalah ibu hamil dapat memberikan rangsangan dan sentuhan secara sengaja kepada bayi dam kandungannya. Karena secara emosional akan terjadi kontak. Jika ibunya gembira dan senang, dalam darahnya akan melepaskan neo transmitter zat-zat rasa senang, sehingga bayi dalam kandungannya juga akan merasa senang.

Sebaliknya, jika si ibu selalu merasa tertekan, terbebani, gelisah, dan stress, ia akan melepaskan zat-zat dalam darahnya yang mengandung rasa tidak nyaman tersebut, sehingga secara tidak sadar bayi akan terstimulasi dan juga ikut gelisah. yang paling baik adalah stimulasi berupa suara-suara, elusan, dan nyanyian yang disukai si ibu. Hal ini akan merangsang bayi untuk ikut senang.  Berbeda jika si ibu melakukan hal-hal yang tidak disukainya, karena itu sama saja memberikan rangsangan negatif pada bayi. Stimulasi ini akan lebih efektif bila kehamilan sudah menginjak usia diatas enam bulan.`Sebab, pada usia tersebut jaringan struktur otak pada bayi sudah mulai berfungsi.

Untuk mendapatkan kondisi-kondisi itulah, seorang ibu harus tetap menjaga nutrisi yang di dapat dari makanan sehari-hari. Bahkan, perlu diimunisasi, misalnya dengan suntikan TT. Lakukan juga konsultasi rutin dengan dokter secara berkala. Awalnya bisa sebulan sekali, dan pada usia kehamilan tujuh bulan menjadi dua kali dalam sebulan. Selanjutnya diperketat menjadi seminggu sekali pada usia kehamalan sembilan bulan.

Disarankan untuk tidak minum obat-obatan yang katanya bisa merangsang perkembangan dan kecerdasan otak bayi. Obat-obatan itu hanya omong kosong. Pemberian obat-obatan semacam itu percuma saja, dan tidak bepengaruh apa-apa. Yang penting ciptakan saja lingkungan yang mendidik, yaitu tiga faktor diatas.  Stimulasi positif, memang dapat meningkatkan kecerdasan anak sejak dalam kandungan. Dari stimulasi ini diharapkan keika anak tumbuh, bukan hanya menjadi cerdas, melainkan dapat bersosialisasi dengan lingkungannya. Stimulasi juga dapat menimbulkan kedekatan antara ibu dan anak.

Sumber yang terkait :
  • www.tabloidnova.com
  • v-sualisasi.blogspot.com
  • bidanku.com
  • Dan sumberlain di lingkungan sekitar
 
Demikianlah semoga bermanfaat dan bisa mengambil hikmah dari tips-tips Agar Pendidikan Anak Maksimal, Mendidik Anak Dengan Perasaan Baik Dan Tindakan Baik, Dengan Kiat Menciptakan Anak Cerdas Sejak Dini, dengan semua uraian di bawahnya yang aku rangkum menjadi satu, sehingga semua orang tua bisa memahami karakter anak-anaknya maupun anak didiknya, sehingga bisa menjadi generasi penerus bangsa, karna bagai manapun, anak adalah titipan Tuhan yang maha kuasa, yang kelak akan diminta pertanggungjawabannya, amien... Thanks and Good Luck semuanya. 

SILAHKAN GUNAKAN FACEBOOK COMMENTARNYA JIKA TIDAK MEMILIKI URL BLOG ATAU SITUS LAINNYA SOB...?? TRIMAKASIH.

Comments
0 Comments

0 komentar:

Poskan Komentar

 
 
 

Pengikut